Cerita Sex Dikeroyok Wanita Sange di Kantor


Kisah ini merupakan pengalaman pribadiku sendiri. Namaku Zuwanda Novrija, umur 27 tahun waktu itu. Aku baru saja berkenalan dengan seorang gadis yang berumur 21 tahun. Aku bekerja di perusahaan swasta di Jakarta,  sedang dia bekerja di sebuah Rumah Sakit swasta. Namanya Maureen.

Aku baru berkenalan dengannya sekitar 1,5 bulan. Waktu awal kenalan, aku tidak pernah mampir kerumahnya. Kami hanya bertemu diluar saja dan ngobrol-ngobrol saja. Tapi lantaran perasaan kami yang semakin akrab, maka suatu kali aku mampir juga kerumahnya,  sekaligus berkenalan dengan keluarganya.

Wanita Sange Itu Gapeduli di Kantor yang Penting Ngentot


Maureen punya seorang ibu tiri yang umurnya sekitar 38 tahun dan dua orang kakak perempuan, yang tertua namanya Wulan, umurnya 28 tahun dan yang nomor dua namanya Shinta umurnya 26 tahun. Walaupun ibunya ibu tiri, tapi sangat baik.
Mereka tinggal 3 orang satu rumah. Sedang kakaknya yang pertama sudah menikah, belum punya anak dan tinggal ditempat lain. Hubungan mereka sekeluarga sangat akrab. Keluarganya ramah terhadapku.

Waktu kedatanganku yang pertama aku cuma duduk bdiruang tamu. Kedatanganku yang selanjutnya aku sudah biasa aja dirumahnya. Aku sudah bisa masuk keruangan yang lainnya. Suatu kali aku masuk kekamar Maureen, didalam kami ngobrol-ngobrol aja. Jarak antara kami makin dekat.

Kupegang tangannya, kemudian perlahan-lahan kudekatkan wajahku kepadanya. Kami saling berciuman. Kulumat bibirnya yang berwarna kemerah-merahan dan Maureen membalas ciumanku. Cukup lama kami berciuman dan aku tidak berani menyentuh bagian yang lain. Sehabis itu kami main Play Stasion.

Minggu berikutnya aku main lagi ke rumah Maureen. Waktu itu kakaknya yang no. 2 yaitu Shinta ada dirumah. Dia tidak masuk kerja. Setelah basa basi dengan kakaknya aku masuk kekamar Maureen. Didalam seperti biasa setelah kami ngobrol-ngobrol sedikit aku mendekati Maureen.

Kami kembali berciuman, aku meremas tangannya, kemudian ciumanku menyusuri lehernya yang putih bersih. Nafas Maureen terdengar agak terengah-engah. Aku meneruskan ciumanku dengan meremas dadanya yang indah. kemudian satu persatu kancing bajunya kutanggalkan, sampai dia hanya pakai BH saja. BH nya yang berukuran 36B itupun kutanggalkan.

Payudaranya yang sekal dan indah itu pun habis kuciumi. Sementara tanganku meremas-remas dengan lembut payudaranya itu. Kemudian puting payudaranya yang berwarna agak kecoklatan kuhisap dan kujilati. Maureen makin menderu nafasnya. Aku terus asyik menghisap payudaranya yang sekal itu. Tapi secara tiba-tiba aku melirik ke pintu yang sedikit terbuka, disitu kulihat shinta berdiri termangu. Aku segera menghentikan gerakanku.


Shinta kemudian masuk kekamar Maureen. Tapi Maureen cuek saja melihat kakaknya masuk kedalam kamarnya. Dia tidak berusaha menutupi tubuhnya. Malah membiarkan saja tubuhnya dalam keadaan terbuka. Aku tentu saja merasa grogi. Aku takut Shinta marah kemudian melarangku main kerumahnya lagi. Tapi Shinta tidak marah malah tersenyum melihat aku yang salah tingkah.

Kemudian Shinta bicara: “Kamu mau kubuatkan teh Zuwanda Novrija?”

“Ya mbak, boleh …. eh. . terima kasih…”jawabku agak gugup.
Dalam hati aku merasa senang karena Shinta tidak marah padaku. Kemudian aku keluar dari kamar dan Maureen memakai bajunya tanpa mengenakan BH lagi. Masih kelihatan payudaranya yang montok itu dibungkus baju kaos yang tipis. Aku diruang tamu ngobrol-ngobrol saja bersama Maureen dan kakaknya. Shinta sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi, dan bicara hal-hal lain.

Minggu berikutnya aku kembali datang kerumah Maureen. Setelah ngobrol-ngobrol dengan kakaknya Shinta, aku kembali masuk kekamar Maureen. Didalam kami kembali berciuman. Aku mencium bibir Maureen yang harum. Maureen membalas ciumanku.

Berbeda waktu kemarinnya, kali ini Maureen agak agresif. Dia mencium bibirku dengan ganasnya. Aku juga semakin berani membuka pakaian Maureen, sehingga dia hanya memakai celana dalam saja. Aku segera menyapu lehernya yang jenjang dan putih bersih.

Maureen terlihat menggelinjang membuat aku semakin bersemangat. Nafasnya mulai terengah-engah. Ciumanku terus kearah dadanya yang montok. Aku menghisap puting payudaranya. Sungguh sangat enak rasanya. Aku menghisap puting payudaranya bergantian. Maureen makin terengah-engah.

Lalu aku membuka celana dalamnya, sehingga sekarang dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Aku menjilati pahanya yang putih mulus. Jilatanku terus naik kearah vagina Maureen yang memancarkan hawa harum dan wangi.

Aku menjilat klitorisnya yang sebelumnya aku menyibakkan bulunya yang belum begitu lebat. Lama aku menghisap klitorisnya. Sampai aku merasakan cairan yang khas, mungkin dia sudah semakin teransang.

Maureen lalu mendorongku, sehingga aku berada dalam posisi telentang. Dia langsung mengarahkan bibirnya yang mungil ke penisku. Wahhh…enak sekali … Maureen mengulum dan menghisap penisku . Aku semakin terengah-engah. Maureen pun semakin semangat mendengar desahan nafasku. Lalu aku mendorong Maureen dengan lembut agar dia segera telentang.

Maureen pun mengerti dengan keinginanku. Penisku kuarahkan kearah vagina Maureen dan memasukkannya dengan perlahan-lahan. Maureen menjerit tertahan begitu penisku masuk semua kedalam vaginanya. Aku mengangkat pantatku perlahan-lahan, dan memasukkannya. Begitu seterusnya aku lakukan, memaju-mundurkan pantatku. Maureenpun kelihatan sangat menikmatinya.

Lalu aku mengangkat kaki kiri Maureen dan tetap aku menggoyang pantatnya yang montok. Sampai akhirnya dia menjerit dengan suara yang agak keras. Dan akupun merasakan cairan hangat yang membasahi penisku didalam vaginanya. Rupanya Maureen sudah keluar. Sementara aku nampaknya masih lama untuk mencapai puncak orgasmeku. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang sudah aku kenal.

“Wah. . kamu kuat juga ya Zuwanda Novrija…”

Rupanya itu suaranya Shinta kakak Maureen. Rupanya dia sudah dari tadi berdiri dibelakangku memperhatikan apa yang kuperbuat bersama dengan adiknya. Aku sangat kaget sekali, dan mencabut penisku yang masih tegang dari vagina Maureen. Kupikir tadi Maureen sudah mengunci pintu kamar.

Shinta segera menghampiri kami berdua. Kulihat Maureen cuek saja dan masih menikmati puncak orgasmenya. Shinta duduk disamping kami dan memperhatikan punyaku yang masih tegang. Sementara aku sendiri masih jauh dari puncak orgasmeku.

Melihat situasinya seperti itu aku jadi memberanikan diriku meraih tangan Shinta. Kutarik lembut tangannya dan aku segera melumat bibirnya yang lembut. Sementara tanganku langsung meremas-remas payudaranya. Sekilas aku melirik Maureen dan kulihat dia tersenyum melihat yang kuperbuat dengan kakaknya. Dia bilang,
“Nah…sekarang giliran saya yang nonton kakak ya…?”

Shinta hanya menjawab dengan tersenyum saja. Nampaknya Maureen ingin aku berbuat yang sama dengan kakaknya.
Tanganku terus saja meremas-remas payudaranya dari luar. Aku segera melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuhnya, sampai dia tidak mengenakan pakaian selembar benangpun alias bugil, seperti Maureen. Aku terus melumat bibirnya.

Shinta pun tidak kalah membalas ciumanku. Ciumanku terus turun kelehernya yang putih bersih. Shinta mengelinjang membuat aku semakin bersemangat saja. Aku terus menciumi payudaranya yang montok, mungkin ukurannya ada sekitar 36, aku tidak tahu persis tapi sama dengan ukurannya si Maureen.

Aku menghisap puting payudaranya dengan lahap. Aku kembali melirik Maureen dan melihat dia tersenyum manis padaku. Aku jadi semakin bersemangat saja. Sementara Shinta terus saja menggelinjang keenakan. Aku terus saja menghisap puting payudara Shinta.

Sementara tangan kiriku meraba-raba selangkangan Shinta. Aku merasakan bulu-bulu vaginanya yang lembut. Ciumanku terus kuturunkan kedaerah vaginanya. Aku menjilati klitoris Shinta dan Shinta terus saja menggelinjang. Aku merasakan cairan yang khas dari vaginanya, tapi aku yakin dia belum orgasme.

Aku lalu mendekatkan penisku kedalam mulut Shinta dan diapun melumat penisku dan menghisapnya. Sungguh sangat enak sekali. Lama Shinta menghisap penisku yang sudah sangat tegang sekali. Aku hampir tidak tahan lagi.

Aku menyuruh Shinta supaya menungging. Aku lalu mengatur posisiku di belakang Shinta. Perlahan-lahan aku memasukkan penisku kedalam vaginanya. Tapi sebelum aku memasukkan penisku, Maureen bergerak mendekatiku dan tangannya menggenggam penisku.

“Biar kumasukin Ndrie…, ”katanya.

Tapi sebelum itu dia masih sempat-sempatnya menghisap penisku. Setelah itu dia mengarahkan penisku ke kemaluan kakaknya. Dia tersenyum padaku. Shinta juga tersenyum padaku. Aku semakin tidak tahan dan segera memasukkan penisku ke vagina Shinta. shinta menjerit tertahan,
“Ahh…Zuwanda Novrija…punyamu enak sekhali…shayang…”

Aku semakin bersemangat menggoyangkan pantatku. Sementara Maureen duduk disampingku. Aku segera meraih tangan Maureen dan aku bilang,
“Reen,  sini payudaramu aku hisap…”
Maureen segera menyodorkan payudaranya kemulutku. Jadi sementara aku menggoyang Shinta, mulutku menghisap payudaranya Maureen. Shinta semakin histeris menjerit-jerit keenakan kugoyang vaginanya dari belakang. Aku lalu menyuruh Maureen berdiri dan mengarahkan selangkangannya ke mulutku. Aku kembali menjilati klitoris Maureen. Maureen terdengar menjerit-jerit keenakan seperti kakaknya.

Tak lama tubuh Shinta menegang. Agaknya dia sudah mau keluar. Benar saja tak lama aku merasakan cairan hangat membasahi penisku yang masih menancap di vaginanya. Maureen juga masih menjerit-jerit. Aku lalu berdiri dan mengarahkan penisku yang masih tegang ke kemaluan Maureen yang berada dalam posisi berdiri dari depan. Aku mengangkat kaki Maureen dan meletakkan kakinya di pinggir tempat tidur. Aku memasukkan penisku kedalam vagina Maureen dari depan dan kugoyang-goyang, maju mundur.

Maureen kembali mendesah-desah,
“…Ahh…Zuwanda Novrija…kamu pintar juga juga pake gaya berdiri seperti dalam film …ahhh…akh. . ”mulutnya terus saja menceracau.

Aku terus saja menggoyangnya, sementara mulutku tidak berhenti menciumi payudaranya yang montok kiri kanan bergantian dan juga menghisapnya bergantian. Maureen semakin melayang-layang kenikmatan saja. Tak lama aku juga sudah ingin keluar. Tapi sebelum aku keluar, Maureen sudah keluar duluan dan badannya mendadak jadi lemas.
Aku segera mencengkram pantatnya dan memeluk tubuhnya. ”Akh…”akhirnya kau keluar juga dengan perasaan yang melayang-layang. Spermaku membasahi vagina Maureen. Aku tidak kuat lagi menahan tubuh Maureen dan membiarkan dia terduduk dan akhirnya penisku pun tercabut dari vaginanya.

Shinta yang dari tadi memperhatikan, kembali mendekatkan kepalanya ke penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana. Maureen pun tidak ketinggalan, juga menghisap penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana. Kedua kakak beradik tadi masih dengan lahap menghisap penisku bergantian.
Akhirnya kami bertiga terbaring lemas. Aku berada ditengah-tengah mereka. Tanganku masih saja bergantian meremas-remas payudara Maureen dan Shinta bergantian. Mereka juga masih menikmati remasan tanganku di payudaranya. Kami sama-sama menarik nafas panjang. Lama kami terdiam.

Tiba-tiba kami dikejutkan teriakan suara panggilan.

“Shinta, Maureen kalian dimana? Ini mbak Wulan datang nih…kok nggak ada yang menyahutin?”
Rupanya kakaknya yang tertua datang. Shinta lalu berdiri dan berkata pada Maureen,
“Reen, biar mbak saja yang menemuin mbak Wulan, kayaknya dia sendirian saja kesini. Suaminya kayaknya nggak ikut tuh…”

Lalu tanpa pakaian sehelai benangpun Shinta berdiri dan jalan keluar kamar. Aku kaget dan bertanya pada Maureen,
“Reen, kalau ketahuan mbak Wulan bagaimana nih…?”kataku agak cemas.
Tapi Maureen hanya tersenyum saja dan mengecup bibirku sebagai jawabannya. Sementara diluar kamar, mbak Wulan sangat terkejut melihat adiknya Shinta menyambutnya tanpa busana sehelai benangpun.
“Shinta…kamu ngapain. . ?Kok nggak pake pakaian…?”tanya mbak Wulan.
Tapi Shinta cuma tersenyum saja dan berkata,

“Nggak apa-apa kok mbak…Mbak nggak usah banyak tanya deh…” sambil tangannya menggandeng tangan kakaknya kekamar Maureen.

Sesampai dikamar Maureen, mbak Wulan kelihatan terkejut melihatku dan Maureen juga tanpa pakaian. Shinta segera menjelaskan,

“Mbak, itu Zuwanda Novrija pacarnya Maureen…Mbak udah kenal kan?”kata Shinta.
Sementara aku masih agak cemas, takut kalau-kalau mbak Wulan marah besar. Tapi rupanya Maureen mengerti perasaanku. Dia berkata pada Wulan,

“Mbak ayo duduk disini, ngapain berdiri disitu. Apa mbak nggak pingin merasakan punya Zuwanda Novrija yang perkasa ini. . ?Bukankah Mbak dulu bilang kalau nggak pernah puas kalau main sama suami mbak…?”
Mulanya mbak Wulan ragu-ragu. Tapi Shinta segera menarik tangan kakaknya dan mengajaknya duduk didekatku yang juga sama-sama bugil dengan adik-adiknya. Akhirnya mbak Wulan duduk juga didekatku. Shinta berkata,
“Ayo Zuwanda Novrija…kita teruskan, nih kakaknya Maureen yang paling tua udah datang. Dia nggak pernah puas kalau main. Mungkin kamu ketemu lawan tangguh…, ”kata Shinta bercanda.
Mbak Wulan dan Maureen kulihat hanya tersenyum saja.

“Sekarang aku dan mbak Shinta cuma nonton aja, kamu main sama mbak Wulan…habis kami capek sih…”kata Maureen dengan manjanya.

cerita dewasa,  kumpulan cerita sex,  blowjob,  handjob,  cerita sex dewasa,  cerita seks dewasa,  tante girang,  daun muda,  pemerkoHeri,  cerita seks artis, cerita sex artis,  cerita porno artis, cerita hot artis,  cerita sex,  cerita kenikmatan, cerita bokep,  cerita ngentot, cerita hot,  bacaan seks,  cerita,  Kumpulan Cerita Seks,  onani dan Masturbasi,  cerita seks tante, blog cerita seks,  seks, sedarah seks,  cerita 17 tahun,  cerita bokep

Instagram

Baca Juga Berita Heboh Hari Ini

loading...