Gita Raybani Selingkuh dengan Teman Kuliah Suami


Saat itu Gita Raybani yang sedang meletakan bayinya di atas kasur, karena cerita-dewasawajah lelahnya dia rebahan di atas sofa ruang tamu suaminya Gita Raybani yang bernama Dhika berbicara katanya nanti ada temanku yang mau datang kesini dan rencanya dia mau menginap. Jadi pekerjaan Gita Raybani selain menjaga bayi dia harus mempersiapkan kamar untuk sahabat suaminya bernama Sugiarto.

Selingkuh dengan Teman Kuliah Suami yang Punya Kontol Lebih Besar dan Stamina yang Kuat


Sugiarto adalah sahabat lama suaminya saat kuliah dulu. Dia cukup akrab dengan mereka. Gita Raybani sudah cukup mengenal Sugiarto, lebih dari cukup untuk menyadari bahwa hatinya selalu berdesir bila bertatapan mata dengannya.
Sebuah perasaan yang tumbuh semakin besar yang tak seharusnya ada dalam hatinya yang sudah terikat janji dengan Dhika waktu itu. Dan perasaan itu tetap hidup di dasar hatinya hingga mereka berpisah, Gita Raybani akhirnya menikah dengan Dhika dan sekarang mereka mempunyai seorang bayi pria. Ada sedikit pertentangan yang berkecamuk dalam hatinya.

Di satu sisi meskipun dia dan suaminya saling menjunjung tinggi kepercayaan dan berpikiran terbuka, tapi dia tetap merasa sebagai seorang istri yang wajib menjaga kesucian perkawinan mereka dan kesetiaannya pada sang suami.

Tapi di sisi lain Gita Raybani tak bisa pungkiri bahwa ada rasa yang lain tumbuh di hatinya terhadap Sugiarto hingga saat ini. Seorang pria menarik berumur sekitar tiga puluhan, berpenampilan rapi, dan matanya yang tajam selalu membuat jantungnya berdebar kencang saat bertemu mata. Sosoknya yang tinggi tegap membuatnya sangat menawan.


Gita Raybani seorang wanita ayu yang bisa dikatakan sedikit pemalu dan selalu berpegang teguh pada sebuah ikatan. Dan dia tak kehilangan bentuk asli tubuhnya setelah melahirkan. Mungil, payudara yang jadi sedikit lebih besar karena menyusui dan sepasang pantat yang menggoda.

Rambutnya lurus panjang dengan mata indah yang dapat melumerkan kokohnya batu karang. Semua yang ada pada dirinya membuat dia mempunyai daya tarik seksual terhadap lawan jenisnya meskipun dia tak pernah menunjukkannya.

Ah… seandainya saja dia mengaenal Sugiarto jauh sebelum suaminya datang dalam kehidupannya!

Gita Raybani pejamkan matanya mencoba meredam pergolakan dalam hatinya dan hati kecilnya menuntun tangannya bergerak ke bawah tubuhnya.

Vaginanya terasa bergetar akibat membayangkannya dan saat dia menyentuh dirinya sendiri yang masih terhalang celana jeansnya, sebuah ombak kenikmatan menerpa tubuhnya. Jemarinya yang lentik bergerak cepat melepas kancing celananya lalu menurunkan resleitingnya.

Tangannya menyelinap di balik celana dalam katunnya yang berwarna putih, melewati rambut kemaluannya hingga sampai pada gundukan daging hangatnya. Nafasnya terasa terhenti sejenak saat jarinya menyentuh kelentitnya yang sudah basah, membuat sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang sangat kuat.

Dia terdiam beberapa waktu. Dhika pulang 2 jam lagi, dan Sugiarto juga datang kira-kira dalam waktu yang sama. Kenapa tidak? Dia tak bisa mencegah dorongan hati kecilnya.

Toh dia tak menghianati suaminya secara lahiriah, hanya sekedar untuk memuaskan dirinya sendiri dan 2 jam lebih dari cukup, sisi lain hatinya mencoba beralasan membenarkan kobaran gairahnya yang semakin membesar dalam dadanya.

Gita Raybani menurunkan celana jeansnya dan mengeluarkan kakinya satu persatu dari himpitan kain celana jeansnya. Melepaskan celana dalamnya juga, lalu dia kembali rebah di atas sofa. Dari pinggang ke bawah telanjang, kakinya terbuka.

Pejamkan matanya lagi dan tangannya kembali bergerak ke bawah, menuju ke pangkal pahanya, membuat dirinya merasa se nyaman yang dia inginkan.

Dia nikmati waktunya, menikmati setiap detiknya. Dia membayangkan Sugiarto sedang memuaskannya, deru nafasnya semakin cepat. Gita Raybani tak pernah berselingkuh selama ini, membayangkan dengan pria lain selain Dhika saja belum pernah, semua fantasinya hanya berisikan suaminya. Tapi sekarang ada sesuatu dari pria ini yang menyeretnya ke dalam fantasi barunya.

Sama Teman Sahabat Suamiku Sendiri


“Ups! Maaf!” terdengar sebuah suara. Matanya langsung terbuka, dan dia tercekat. Dia melihat bayangan seorang pria menghilang di sudut ruangan. Dia baru sadar kalau dia sudah melakukan masturbasi selama lebih dari 10 menit, dan dia benar-benar tenggelam dalam alam imajinasinya hingga tak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumah.

Dan dia sadar kalau bayangan pria itu adalah Sugiarto, dengan terburu-buru dia mengambil pakaiannya dan segera memakainya lagi.

“Maafkan aku Gita Raybani,” kata Sugiarto, “Nggak ada yang menjawab ketukanku dan pintunya terbuka.” dia berada di sudut ruangan jauh dari pandangan, tapi dia sudah melihat banyak! Pemandangan yang disaksikannya saat dia memasuki ruangan ini membakar pikirannya.

Istri sahabatnya berbaring dengan kaki terpentang lebar di atas sofa itu, tangannya bergerak berputar pada kelentitnya. Pahanya yang lembut dan kencang tebuka lebar, rambut kemaluannya yang hitam mengelilingi bibir vaginanya. Penisnya mengeras dengan cepat dalam celana jeansnya.

“Nggak apa-apa,” jawab Gita Raybani dari ruang keluarga,

“Kamu boleh masuk sekarang.” dia sudah berpakaian lengkap sekarang, dan dia berbaring di atas sofa, menyembunyikan wajahnya dalam telapak tangannya.

“Aku sangat malu.” katanya kemudian.

“Ah, kita semua pernah melakukannya, Gita Raybani!” jawab Sugiarto.

Dia berdiri tepat di samping Gita Raybani, seperti ingin agar Gita Raybani dapat melihat seberapa A?a,?EskerasnyaA?a,?a”? dia.

Dia tak dapat mencegahnya, wanita ini sangat menggoda. Dia merasa kalau dia ingin agar wanita ini bergerak padanya!!!

“Tetap saja memalukan!” katanya, menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Vaginanya berdenyut sangat hebat, dia hampir saja mendapatkan orgasme tadi! Sebuah desiran yang lain terasa saat dia melihat tonjolan menggelembung pada bagian depan celana Sugiarto.

Dengan cepat dia memalingkan wajahnya, tapi masih saja pria ini memergokinya. Sekarang Sugiarto menjadi lebih terbakar lagi, ini lebih dari cukup.

“Nggak ada yang harus kamu permalukan, setidaknya itu pendapatku setelah apa yang sudah aku lihat tadi!” katanya tenang. Gita Raybani menatapnya penuh dengan tanda tanya.

“Aku jadi benar-benar terangsang melihatmu seperti itu,” dia menjelaskan, “Sebuah perasaan yang belum pernah ku alami sebelumnya.” kata-katanya, adalah kenyataan bahwa dia sangat menginginkannya, membuat Gita Raybani semakin basah.

Dia menyadari betapa istri sahabatnya ini A?a,?EstertarikA?a,?a”? akan perkataannya tersebut dan Sugiarto memutuskan untuk lebih menekannya lagi.

“Lihat akibatnya padaku!” katanya, tangannya bergerak mengelus tonjolan pada bagian depan celananya. Ini masih dalam batas yang bisa dikatakan A?a,?EswajarA?a,?a”?, belum ada batas yang dilanggar.

Saat Sugiarto melihat A?a,?EsnodaA?a,?a”? basahnya di atas permukaan sofa itu dan mata Gita Raybani yang tak berpaling dari seputar pinggangnya, Sugiarto memutuskan akan melanggar batas tersebut.

Gita Raybani hanya melihat dengan diam saat sahabat suaminya ini membuka kancing dan menurunkan resleiting celananya. Gita Raybani tak bisa mengingkari bahwa dia menjadi lebih terangsang, dan dia tak menemukan kata yang tepat untuk mencegah pria ini.

Dan saat dia menyaksikan pria di depannya ini memasukkan tangannya dalam celana dalamnya sendiri, vaginanya terasa semakin basah. Sugiarto mengeluarkan penis kedua dalam hidup Gita Raybani yang dilihatnya secara nyata, disamping penis para bintang film porno yang pernah dilihatnya bersama suaminya dulu.

Nafas Gita Raybani tercekat, matanya terkunci memandangi penis dihadapannya. Dia belum melihat keseluruhannya, dan ini benar-benar sangat berbeda dengan milik suaminya. Tapi ternyata A?a,?EsperbedaanA?a,?a”? itulah yang semakin membakar nafsunya semakin lapar.

“Suka apa yang kamu lihat?” tanyanya pelan. Gita Raybani mengangguk, memberanikan diri memandang ke atas pada mata Sugiarto sebelum melihat kembali pada penisnya yang keras. Sugiarto mengumpat betapa beruntungnya sahabatnya. Dia ucapkan sebuah kata.

“Sentuhlah!”

Ragu-ragu, dengan hati berdebar kencang, Gita Raybani pelan-pelan menyentuh dengan tangannya yang kecil dan melingkari penis pria di depannya ini dengan jarinya. Penis pertama yang dia pegang dengan tangannya, selain milik suaminya, dalam enam tahun belakangan.

Perasaan dan emosi yang bergolak di dadanya terasa menegangkan, dan dia inginkan lebih lagi. Sugiarto melihat penisnya dalam genggaman tangan istri sahabatnya yang kecil, dan dia hanya melihat saat Gita Raybani pelan-pelan mulai mengocokkan tangannya.

Terasa sangat panas dan keras dalam genggaman tangannya, dan Gita Raybani tak dapat hentikan tangannya membelai kulitnya yang lembut dan berurat besar itu. Sugiarto bergerak mendekat dan membuat batang penisnya menjadi hanya beberapa inchi saja dari wajah Gita Raybani.

Sugiarto menyentuh tubuh Gita Raybani, tangannya meremas pahanya yang masih terbungkus celana jeans. Tanpa sadar Gita Raybani membuka kakinya sendiri melebar untuknya, dan tangan Sugiarto bergerak semakin dalam ke celah paha Gita Raybani.

Terasa desiran kuat keluar dari vaginanya saat tangan Sugiarto mulai mengelusi dari luar celana jeansnya, Gita Raybani menggelinjang dan meremas penisnya semakin kencang.

Dengan tangannya yang masih bebas, dipegangnya belakang kepala Gita Raybani dan mendorongnya semakin mendekat. Gita Raybani tak berusaha berontak. Matanya masih terpaku pada penis Sugiarto, dia menunduk ke depan dan dengan lembut mencium ujung kepalanya.

Lidahnya terjulur keluar dan Gita Raybani kemudian mulai menjilat dari pangkal hingga ujung penis barunya tersebut.

Sekarang giliran Sugiarto, tangannya bergerak melucuti pakaian Gita Raybani. Gita Raybani yang sedang asik dengan batang keras dalam genggaman tangannya tak menghiraukan apa yang dilakukan Sugiarto. Diciumnya kepala penis Sugiarto, menggodanya seperti yang disukai suaminya (hanya itulah seputar referensi yang dimilikinya).

Tangan Sugiarto menyelinap dalam celana dalam Gita Raybani, tangannya meluncur melewati rambut kemaluannya. Gita Raybani melenguh pelan saat tangan Sugiarto menyentuh kelentitnya. Dia membuka lebar mulutnya dan memasukkan mainan barunya tersebut ke dalam mulutnya, lidahnya berputar pelan melingkari kepala penis dalam mulutnya.

Sugiarto mengerang, merasakan kehangatan yang membungkus kejantanannya. Dia menatapnya dan melihat batang penisnya menghilang dalam mulut Gita Raybani, bibirnya mencengkeram erat di sekelilingnya dan matanya terpejam rapat.

Sugiarto menjalankan jarinya pada kelentit Gita Raybani, menggoda tombol kecilnya, mulut Gita Raybani tak bisa bebas mengerang saat tersumpal batang penis Sugiarto. Dorongan gairah yang hebat membuat Gita Raybani semakin bernafsu mengulum naik turun batang penis Sugiarto. Pinggulnya dengan reflek bergerak memutar merespon tarian jari Sugiarto pada kelentit sensitifnya.

Jari Sugiarto mengeksplorasi lubang hangatnya Gita Raybani, membuat lenguhannya semakin sering terdengar dalam bunyi yang aneh karena dia tak juga mau melepaskan mulutnya dari batang penis Sugiarto. Gita Raybani tak lagi memikirkan apa yang dia perbuat, dia hanya mengikuti nalurinya.

Ini benar-benar lain dengan dia dalam keseharian, sesuatu yang akan membuat suaminya mati berdiri bila dia melihatnya saat ini. Semuanya meledak begitu saja.

Sesuatu yang dimiliki pria ini yang membuka pintu dari sisi lain dirinya dan Sugiarto sangat menikmati perbuatannya. Masing-masing masih tetap asik dengan kemaluan pasangannya. Dan Gita Raybani menginginkan lebih dari ini. Mereka berdua menginginkan lebih dari sekedar begini.

Gita Raybani menelan seluruh batang penis Sugiarto, menahannya di dalam mulutnya untuk memenuhi kehausan gairahnya sendiri. Hidungnya sampai menyentuh rambut kemaluan Sugiarto, ujung kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokannya, hampir membuatnya tersedak.

Sugiarto mengeluarkan tangannya dari balik celana dalam Gita Raybani yang membuatnya sedikit kecewa, ada sesuatu yang terasa hilang. Diraihnya tepian celana jeans Gita Raybani dan dengan cepat Gita Raybani mengangkat sedikit pantatnya dari atas sofa, yang mau tak mau membuatnya melepaskan batang penis itu dari mulutnya, dan mempermudah sahabat suaminya ini melepaskan celananya dari kakinya yang halus.


Nafasnya tercekat, dada terasa berat saat dia melihat Sugiarto menarik celana dalamnya. Dengan sedikit memaksa dia menurunkannya melewati kakinya dan Gita Raybani menendangnya menjauh dari kakinya sendiri. Membantu Sugiarto menelanjangi tubuh bawahnya. Sugiarto sekarang berlutut di lantai dan menatap takjub pada segitiga menawan dari rambut kemaluan Gita Raybani.

Dia menyentuh vagina Gita Raybani dengan tangan kirinya, menjalankan jari tengahnya pada kelentitnya sambil tangan yang satunya menggenggam batang penisnya sendiri.

Gita Raybani mendesah pelan, pinggulnya bergetar. Matanya terpejam rapat, dia sangat meresapi rasa yang diberikan selangkangannya. Sugiarto mengoleskan kepala penisnya pada pipi dan hidung Gita Raybani. Saat sampai di mulutnya, Gita Raybani membuka mulutnya segera dan Sugiarto langsung mendorong penisnya masuk.

Tangannya yang kecil menggenggam buah zakarnya dan Gita Raybani membuka matanya perlahan saat dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun pada batang penisnya.

Sugiarto semakin melesakkan jarinya ke dalam vagina Gita Raybani, membuat Gita Raybani memejamkan matanya lagi, mengerang. Vaginanya terasa sangat basah! Jarinya bergerak di seluruh rongga lubang itu, bergerak keluar masuk saat ibu jarinya mengerjai kelentit Gita Raybani.

Kini, celana jeans dan celana dalam Sugiarto sudah jatuh merosot di atas lantai, Sugiarto menarik penisnya keluar dari mulut Gita Raybani dan langsung menendang pakaian bawahnya menjauh.

Dia menunduk, tangannya bergerak ke bawah bongkahan pantat Gita Raybani, mengangkatnya dari atas sofa agar bagian bawah tubuh istri sahabatnya ini lebih terekspose ke atas. Gita Raybani meraih penisnya dan segera memasukkannya kembali ke dalam mulutnya. Sugiarto mendekatkan kepalanya pada daging nikmat Gita Raybani.

Masih tetap menahan pantat Gita Raybani ke atas, mulutnya mencium bibir vagina Gita Raybani, mencicipi rasa dari istri sahabatnya untuk pertama kalinya. Mulut Gita Raybani langsung mengerang merespon, sejenak menikmati sensasi yang diberikan Sugiarto sebelum kembali meneruskan A?a,?EspekerjaanA?a,?a”? mulutnya. Lidah Sugiarto melata pada dinding bagian dalam dari vagina Gita Raybani, menjilati sari buah gairah yang dikeluarkannya.

Gita Raybani merasa bibir Sugiarto menjepit tombol sensitifnya dan lidahnya bergerak pelan pada sasarannya. Erangan semakin tak terkendali lepas dari mulutnya akibat perlakuan Sugiarto kali ini. Batang penisnya terlepas keluar dari cengkeraman mulut Gita Raybani. Sugiarto semakin menaikkan pantat Gita Raybani, menekan vagina Gita Raybani pada wajahnya dan lidahnya semakin bergerak menggila.

Jantung Gita Raybani serasa mau meledak, nafasnya terasa berat… sangat dekat…

Jantungnya berhenti berdenyut, orgasmenya datang. Pinggulnya mengejat di wajah Sugiarto dengan liar. Gita Raybani merasa jiwanya melayang entah kemana! Pria ini memberinya sebuah oral seks terhebat yang pernah didapatkan dalam hidupnya!

Akhirnya, Gita Raybani kembali ke bumi. Sugiarto melepaskan pantatnya, mengangkat kepalanya dari selangkangan Gita Raybani. Batang penisnya terasa sangat keras, dan nafasnya terdengar memburu tak beraturan.

Gita Raybani pikir dia tak mungkin dapat menghentikan pria ini sekarang meskipun dia menginginkannya. Sugiarto naik ke atas sofa, menempatkan dirinya diantara paha Gita Raybani, yang tetap Gita Raybani biarkan terbentang lebar hanya untuknya.

Terlintas dalam pikirannya jika dia tetap meneruskan ini terjadi, milik Sugiarto adalah penis kedua yang akan memasuki tubuhnya dalam hidupnya.

Sedikit gelembung rasa bersalah melayang dalam benaknya. Yang dengan cepat meletus menguap saat ujung kepala penis Sugiarto menyentuh bibir vaginanya, membuat sekujur tubuhnya seakan tersengat aliran listrik.

Dengan perlahan Sugiarto memasukkan penisnya menembus ke dalam tubuh Gita Raybani. Pada pertengahan perjalanannya dia menghentikan sejenak gerakannya, menikmati gigitan bibir vagina Gita Raybani pada batang penisnya dan tiba-tiba dia menghentakkan kedalam dengan satu tusukan.

Dinding vaginanya terbuka menyambutnya, dan pelan-pelan Gita Raybani dapat merasakan dirinya menerima sesuatu yang lain memasuki tubuhnya kini. Tubuhnya merinding, perasaan menakjubkan ini merenggut nalarnya.

Sugiarto mengeluarkan separuh dari batang penisnya dan menghujamkannya kembali seluruhnya ke dalam vagina Gita Raybani.

Erangan keduanya terdengar saling bersahutan dan Sugiarto menahan penisnya sejenak di dalam vagina Gita Raybani, meresapi sensasinya. Manahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya, dia menatap ke bawah pada istri sahabatnya ini sambil menggerakkan penisnya keluar masuk dalam vagina Gita Raybani dengan gerakan lambat.

Gita Raybani pejamkan matanya, mendesah lirih saat dia rasakan kejantanan Sugiarto keluar masuk dalam tubuhnya. Sugiarto melihat batang penisnya menghilang lalu muncul kembali dalam daging hangat basah milik Gita Raybani lagi dan lagi, dan gerakannya perlahan semakin cepat.

Nafas keduanya semakin berat, Sugiarto bergerak semakin cepat, Gita Raybani menggelinjang, mengerang, kakinya terangkat keatas.

Kedua kakinya akhirnya jatuh dibelakang pantat Sugiarto yang mengayun keluar masuk. Tubuh Sugiarto menindih tubuh kecil wanita di bawahnya saat dia mengocok vaginanya semakin keras. Dia menciumi leher Gita Raybani, dan menghisap lubang telinganya dengan mulutnya, erangan keduanya terdengar mengiringi setiap gerakan tubuh mereka.

Lengan Gita Raybani melingkari tubuh Sugiarto, kukunya tertancap pada punggung Sugiarto saat kakinya terayun-ayun oleh gerakan pantat Sugiarto. Mulut Gita Raybani menyusuri leher Sugiarto, mencari bibirnya. Saat bibir mereka bertemu, mereka berciuman untuk pertama kalinya.

Lidah Gita Raybani merangsak masuk ke dalam mulut Sugiarto mengiringi batang penisnya yang menggenjot tubuhnya berulang-ulang. Bibir keduanya saling melumat, saling mengerang dalam mulut masing-masing di atas sofa di ruang tengah itu. Sofa itu sedikit berderit akibat gerakan Sugiarto yang bertambah liar.

Gita Raybani dapat merasakan orgasmenya mulai tumbuh, dan dia menghentikan ciumannya, tak mampu menahan erangannya lagi. Mulut mungilnya mengeluarkan erangan yang sangat keras dan semakin keras saat penis keras Sugiarto semakin melebarkan vaginanya dan Sugiarto memasukinya bertambah dalam.

Seorang pria baru! Gita Raybani tak pernah melakukannya dengan pria lain selain Dhika sebelumnya dan pria baru ini melakukannya dengan sangat hebat! Semuanya terasa bergerak cepat. Orgasmenya meledak, Gita Raybani mencoba menahan erangannya dengan menggigit bibir bawahnya.

Dinding-dinding vaginanya berkontraksi mencengkeram batang penis pria baru ini dengan kuat, dan Gita Raybani menghentakkan pinggulnya keatas berlawanan dengan gerakan Sugiarto di atas tubuhnya, berusaha agar batang penis Sugiarto tenggelam semakin dalam pada tubuhnya saat ombak orgasme mengambil alih kesadarannya.

Sugiarto memandangi Gita Raybani saat dia dilanda orgasme, masih tetap mengocok penisnya dengan kecepatan yang dia mampu. Dia tak menyangka wanita pemalu dan pendiam ini akan begitu mudah ditaklukannya! Dia merasakan miliknya juga segera tiba, gerakannya semakin dipercepat.
Dalam beberapa tusukan kemudian, dan lalu meledaklah. Sejenak setelah orgasme Gita Raybani mereda, orgasme Sugiarto datang.

Tusukan terakhirnya membuat penisnya terkubur semakin jauh dalam vagina Gita Raybani. Dia menggeram, penisnya berdenyut hebat. Semburan demi semburan yang kuat keluar dari ujung penisnya mendarat dalam rahim Gita Raybani seakan tanpa jeda.

Gita Raybani menggoyangkan pantatnya naik ke atas, memeras semua sperma dari penis Sugiarto. Sugiarto tak bisa menahan tubuhnya lebih lama, dia jatuh menindih tubuh Gita Raybani di bawahnya, mencoba bernafas dengan susah payah.

Tangan Gita Raybani membelai punggung Sugiarto saat sperma terakhirnya keluar dari penisnya menyirami vaginanya. Keduanya masih berusaha untuk mengatur nafas.

Kedua bibir mereka merapat, berciuman dengan lembut. Lidahnya menggelitik rongga mulut Gita Raybani dan ciuman mereka berubah menjadi liar saat penis Sugiarto mulai mengecil dalam vagina Gita Raybani. Tangan dan paha Gita Raybani mencengkeramnya erat, menahannya agar tetap berada dalam tubuhnya.

Dia mendapatkan pengalaman lain dengan pria ini. Pria kedua yang bercinta dengannya dalam 29 tahun usianya. Akhirnya mereka hentikan ciumannya. Sugiarto mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi dari vagina Gita Raybani.

Keduanya mengenakan pakaiannya masing-masing tanpa saling berkata-kata. Gita Raybani terlalu malu untuk mengucapkan sesuatu dan Sugiarto tak tahu harus berkata apa.

Dhika pulang 30 menit kemudian A?a,?aEs dia pulang lebih awal, tapi tak lebih awal (beruntunglah mereka). Ketiganya lalu makan malam, dan Gita Raybani tak dapat menyingkirkan pikirannya dari bayangan Sugiarto sepanjang waktu itu.

Dhika dan Sugiarto kemudian sibuk dengan urusan pria yang tak begitu dimengerti oleh Gita Raybani. Dan malam berikutnya, mereka berdua duduk di meja makan bersama Gita Raybani. Para pria sedang bermain catur. Gita Raybani menghabiskan sepanjang harinya mengasuh bayi mereka.

Kapanpun saat dia sedang sendiri, dia tak mampu hentikan dirinya memikirkan pengalamannya bersama Sugiarto kemarin. Dia merasa gairahnya menyala-nyala sepanjang hari itu, dan dia mempunyai beberapa menit untuk memuaskan dirinya dengan tangannya sendiri.

Saat menuangkan minuman pada suaminya dan Sugiarto malam itu, dia sangat bergairah, dan sangat basah. Setiap kali dia melirik Sugiarto, ada desiran halus pada vaginanya. Sekarang dia telah mencoba seorang pria lain, dan dia merasa ketagihan!

Sugiarto tak jauh beda. Dia bermasturbasi mebayangkan istri sahabatnya ini kemarin malam, sebelum tidur. Bayangan tubuh telanjangnya memenuhi benaknya sepanjang hari. Saat Dhika pergi ke kamar mandi, Sugiarto beringsut mendekati Gita Raybani.

“Apa kamu menikmati waktu kita kemarin?” tanyanya berbisik.

“Ya.” Gita Raybani tersenyum manis. Sifatnya yang malu-malu membuat birahi Sugiarto terbakar.

“Apa kamu menginginkannya sekarang?” dia bertanya memastikan. Penisnya sudak mengeras sekarang. Gita Raybani terkejut dengan pertanyaannya yang sangat berani itu, malu-malu, lalu mengangguk.

Sugiarto memutuskan akan sedikit menggodanya. Membuat Gita Raybani semakin menginginkannya agar kesempatan mendapatkannya lagi semakin terbuka lebar. Dia menurunkan resleiting celananya dan melepaskan kancingnya, tangannya masuk ke dalam pakaian dalamnya.

Dia mengeluarkan penisnya, yang sudah ereksi penuh. Nafas Gita Raybani tercekat di tenggorokan, denyutan di vaginanya memberinya sebuah sensasi. Batang penis itu berada dalam tubuhnya kemarin. Dia menginginkannya lagi sekarang.

Mereka mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Sugiarto segara memasukkan penisnya kembali ke dalam celananya. Dhika masuk ke dalam ruangan, tak mengira sahabatnya baru saja memperlihatkan penisnya yang ereksi pada istrinya.

Tak lama berselang, entah kenapa dewa kemujuran selalu berpihak pada mereka, Dhika lagi-lagi mau ke kamar mandi. Saat dia berdiri dan bergegas ke kamar mandi, vagina istrinya berdenyut membutuhkan penis Sugiarto.

Begitu Dhika menghilang dari pandangan keduanya, Sugiarto langsung bangkit dari kursinya. Mata Gita Raybani berbinar terfokus pada tonjolan di celana Sugiarto saat mereka mendengar pintu kamar mandi ditutup.

Dia langsung menurunkan resleitingnya, dan mengeluarkan batang penisnya. Dengan cekatan Sugiarto mengocok penisnya sampai ereksi penuh, sangat dekat di wajah Gita Raybani. Sugiarto berdiri dei depan Gita Raybani, dan Gita Raybani langsung berlutut di hadapan sahabat suaminya.

Kepala penisnya menyentuh kulit pipinya, dan perlahan bergerak ke mulutnya. Saat Sugiarto merasa bibir lembut Gita Raybani menyentuh ujung kepala penisnya, dia merasa mulut itu membuka.

Segera saja kepala penis itu lenyap ke dalam mulut Gita Raybani, dan Sugiarto melihat bibir itu bergerak membungkus seluruh batang penisnya.

Tangannya membelai rambut panjang Gita Raybani dengan lembut, menahan kepalanya saat seluruh bagian batang penisnya lenyap dalam mulut Gita Raybani.
Kepalanya segera bergerak maju mundur pada batang penis itu, suara basah dari hisapan mulutnya segera terdengar.

Kembali, mereka mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan Sugiarto mengeluarkan penisnya dari mulut Gita Raybani dengan cepat. Agak kesulitan dia memasukkan penisnya kembali dalam celananya dan segera duduk kembali di kursinya, menutupi perbuatan mereka. Dhika duduk dan memberi Gita Raybani ciuman kecil, tak tahu kalau istrinya baru saja mendapatkan sebuah batang penis yang lain dalam mulutnya.

Mereka kembali mendapatkan kesempatan sekali lagi di malam itu, dan mereka berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Bayi mereka menangis di lantai atas, Dhika berinisiatif untuk pergi melihatnya. Gita Raybani lebih dari senang mengijinkannya. Dia sangat menginginkan penis itu, tapi dia tak mampu berbuat apa-apa. Meskipun mendapatkannya di dalam mulutnya tak mampu meredakan gairahnya.

Mereka dapat mendengar bunyi langkah kaki Dhika yang menaiki tangga, dan Gita Raybani langsung berdiri. Dia tak pernah se agresif ini! Tapi keA?a,?a”?hausannyaA?a,?a”? akan penis itu mampu merubah tabiatnya. Hanya sekedar untuk segera melihatnya lagi! Dia langsung berlutut di antara paha Sugiarto, dan Sugiarto segera membukanya untuknya…

Tangan mungilnya dengan cekatan melepaskan kancing dan resleitingnya, dan dia langsung membukanya dalam sekejap. Gita Raybani meraih ke dalam celana dalam Sugiarto dan mengeluarkan penis kerasnya.

Vaginanya langsung basah hanya dengan memandangnya saja. Tangannya yang kecil mengocoknya, saat lidahnya menjilati dari pangkal batang penis Sugiarto hingga ke ujung.

Sekali lagi, dia kembali memasukkannya ke dalam mulutnya. Menghisapnya dengan rakus hingga mengeluarkan bunyi, tak menghiraukan resiko kepergok suaminya. Sugiarto mendengarkan dengan seksama gerakan dari lantai atas, memastikan Dhika tidak turun ke bawah.

Sugiarto menatapnya. Bibirnya membungkus batang penisnya dengan erat, kepala penisnya tampak bekilatan basah terkena lampu ruangan ini saat itu keluar dari mulutnya, mata Gita Raybani terpejam menikmati. Dia ternyata begitu pintar memberikan blow job! Sugiarto sangat ingin menyetubuhi wanita ini, meskipun hanya sesaat.

Gairahnya sudah tak terbendung lagi, dan dia memegang pipi Gita Raybani, batang penisnya keluar dari mulutnya. Sugiarto berdiri, penisnya mengacung tegang, dan Gita Raybani berdiri bersamaan, memandangnya dengan api gairah yang sama.

Sugiarto menciumnya, lembut, melumat bibirnya. Dia menciumnya lagi, dan lidah mereka saling melilit. Lalu ciuman itu berakhir. Sugiarto memutar tubuh Gita Raybani membelakanginya. Gita Raybani merasakan tangan Sugiarto berada pada vaginanya, berusaha melepaskan kancing celananya.

“Jangan…” desahan lirih keluar dari mulutnya. Dia tak tahu kenapa kata itu keluar dari mulutnya saat dia ingin mengucapkan kata A?a,?EsyaA?a,?a”?. Celananya jatuh hingga lututnya, memperlihatkan pantatnya yang dibungkus dengan celana dalam katun berwarna putih.

Sugiarto merenggut kain itu dan langsung menyentakkannya ke bawah, membuat pantat Gita Raybani terpampang bebas di hadapannya. Sugiarto masih dapat mendengar suara gerakan di lantai atas jadi dia tahu dia aman untuk beberapa saat, dia hanya perlu memasukkan penisnya ke dalam vaginanya, walaupun untuk se detik saja!

Nafas keduanya memburu, dan Gita Raybani sedikit menundukkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu pada meja makan, membuka lebar kakinya. Sugiarto jauh lebih tinggi darinya, penisnya berada jauh di atas bongkahan pantatnya.

Dia sedikit menekuk lututnya agar posisinya tepat. Dia semakin menekuk lututnya, sangat tidak nyaman, tapi dia sadar kalau dia terlalu tinggi untuk Gita Raybani. Dia tahu dia akan merasa kesulitan dalam posisi ini, tapi hasratnya semakin mendesak agar terpenuhi segera.

Dia menggerakkan pinggulnya ke depan, ujung kepala penisnya menyentuh bibir vaginanya. Gita Raybani sudah teramat basah! Dan itu semakin mengobarkan api gairah Sugiarto. Saat bibir vagina Gita Raybani sedikit mencengkeram ujung kepala penisnya, Sugiarto tahu jalan masuknya sudah tepat.

Dia mendorong ke depan. Gita Raybani menghisapnya masuk ke dalam, separuh dari penisnya masuk ke dalam dengan cepat.

Gita Raybani mendesah, merasa Sugiarto memasukinya. Sugiarto mencengkeram pantat Gita Raybani dan memaksa memasukkan penisnya semakin ke dalam. Batang penisnya sudah seluruhnya terkubur ke dalam cengkeraman hangatnya.

Sugiarto mulai menyetubuhinya dari belakang, menarik penisnya separuh sebelum mendorongnya masuk kembali, lagi dan lagi. Serasa berada di surga bagi mereka berdua. Sugiarto berada di dalam vaginanya hanya beberapa detik, tapi bagi keduanya itu sudah dapat meredakan gelora api gairah yang membakar.

Tiba-tiba Sugiarto mendengar gerakan dari lantai atas. Gita Raybani tak menghiraukannya, dia sudah tenggelam jauh dalam perasaannya. Sugiarto mengeluarkan penisnya dari vagina Gita Raybani. Sebenarnya Gita Raybani ingin teriak melampiaskan kekesalannya, tapi segera dia sadar akan bahaya yang mengancam mereka berdua, segera saja dia menarik celana dan celana dalamnya sekaligus ke atas. Saat Dhika datang, mereka berdua sudah duduk kembali di kursinya masing-masing, gusar.

Sugiarto dan Gita Raybani menghabiskan sisa malam itu dengan gairah yang tergantung. Saat malam itu berakhir, Sugiarto segera bergegas pergi ke kamarnya dan langsung mengeluarkan penisnya. Hanya dibutuhkan 3 menit saja baginya bermasturbasi dan legalah.

Tapi bagi Gita Raybani, tidaklah semudah itu. Kamar tidurnya berada di lantai yang berlainan dengan kamar tamu yang dihuni Sugiarto, dan dia tak punya kesempatan untuk melakukan masturbasi. Bahkan Dhika tak mencoba untuk bercinta dengannya malam itu! Seperempat jam ke depan dilaluinya dengan resah. Gita Raybani memberi beberapa menit lagi untuk suaminya sebelum dia tak mampu membendungnya lagi.

Dia turun dari tempat tidur, setelah memastikan suaminya sudah tertidur lelap. Dia mengendap-endap menuju ke kamar tamu. Malam itu dia hanya memakai kaos putih besar hingga lututnya dan celana dalam saja untuk menutupi tubuh mungilnya.

Dengan hati-hati dia membuka pintu kamar Sugiarto, menyelinap masuk, dan menutup perlahan pintu di belakangnya. Sugiarto sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Gita Raybani berdiri di samping tempat tidur, memandang pria yang tertidur itu, memutuskan bahwa dia akan melakukannya. Ini tak seperti dirinya! Dia tak pernah seagresif ini! Dia tak pernah berinisiatif! Tapi sekarang, terjadi perubahan besar.


Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Sugiarto, Sugiarto tergolek tidur di atas kasur hanya memakai celana dalamnya. Gita Raybani mencengkeram bagian pinggirnya dan dengan cepat menariknya turun hingga lututnya, membebaskan penis Sugiarto yang masih lemas. Dengan memandangnya Gita Raybani merasakan desiran halus pada vaginanya. Dia tak percaya Sugiarto tak terbangunkan oleh perbuatannya tadi! Yah, baiklah, dia tahu bagaimana cara membangunkannya.

Gita Raybani duduk di samping Sugiarto, dengan perlahan membuka kaki Sugiarto ke samping. Tangan mungilnya meraih penis Sugiarto yang masih lemas menuju ke mulutnya. Rambut panjangnya jatuh tergerai di sekitar pangkal paha Sugiarto. Sugiarto setengah bangun, merasa nyaman. Penisnya membesar dalam mulut Gita Raybani, dan sebelum ereksi penuh, dia akhirnya benar-benar terjaga. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi A?a,?aEs istri sahabatnya sedang menghisap penisnya!

Dia mendesah, tangannya meraih ke bawah dan mengelus rambut panjang Gita Raybani saat dengan pasti penisnya semakin mengeras dalam mulut Gita Raybani. Merasakan penisnya yang semakin membesar dalam mulutnya membuat celana dalam Gita Raybani basah, dan dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun. Dia menghisap dengan berisik, lidahnya menjalar naik turun seperti seorang professional.

Sugiarto dapat mendengar bunyi yang dikeluarkan mulut Gita Raybani saat menghisap penisnya, dan dia dapat melihat bayangan tubuh Gita Raybani yang diterangi cahaya bulan yang masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Gita Raybani sedang memberinya blow job yang hebat. Untunglah dia bermasturbasi sebelum tidur tadi, kalau tidak pasti dia tak akan dapat bertahan lama.

Gita Raybani tak mampu menahannya lagi. Dia ingin vaginanya segera diisi. Dia sangat terangsang, dia sangat membutuhkan penis itu dalam vaginanya seharian tadi. Dikeluarkannya penis Sugiarto dari dalam mulutnya, dan berdiri dengan bertumpukan lututnya di atas tempat tidur itu.

Tangannya menarik bagian bawah kaosnya ke atas dan menyelipkan kedua ibu jarinya di kedua sisi celana dalamnya dan mulai menurunkannya.

Diangkatnya salah satu kakinya untuk melepaskan celana dalam itu dari kakinya. Kaki yang satunya lagi dan kemudian merangkak naik ke atas kasur setelah menjatuhkan celana dalamnya ke atas lantai. Nafasnya sesak, menyadari apa yang menantinya.

Diarahkannya batang penis Sugiarto ke atas dengan tangannya yang kecil dan bergerak ke atas Sugiarto, memposisikan vaginanya di atasnya. Sugiarto dapat merasakan bibir vagina Gita Raybani yang basah menyentuh ujung kepala penisnya saat Gita Raybani mulai menurunkan pinggulnya.

Daging dari bibir vaginanya yang basah membuka dan kepala penis Sugiarto menyelinap masuk. Gita Raybani mengerang lirih, tubuhnya yang disangga oleh kedua lengannya jadi agak maju ke depan. Gita Raybani semakin menekan ke bawah, membuat keseluruhan batang penis Sugiarto akhirnya tenggelam ke dalamnya.

Erangan Gita Raybani semakin terdengar keras. Dia merasa sangat penuh! Sugiarto benar-benar membukanya lebar! Gita Raybani semakin menekan pinggulnya ke bawah dan dia mulai menciumi leher Sugiarto, berusaha menahan Sugiarto di dalam tubuhnya.

Bibir mereka bertemu dan saling melumat dengan bernafsu. Lidah Gita Raybani menerobos masuk ke dalam mulut Sugiarto, menjalar di dalam rongga mulutnya saat dia tetap menahan batang penis Sugiarto agar berada di dalam vaginanya.

Sugiarto membalas lilitan lidah Gita Raybani, tangannya bergerak masuk ke balik kaos yang dipakai Gita Raybani, bergerak ke bawah tubuhnya hingga akhirnya tangan itu mencengkeram bongkahan pantat Gita Raybani. Tangannya mengangkat pantat Gita Raybani ke atas, membuat tubuhnya naik turun di atasnya A?a,?aEs Gita Raybani tetap tak membiarkan batang penis Sugiarto teangkat terlalu jauh dari vaginanya!

Tak menghiraukan keberadaan Dhika yang masih terlelap tidur di kamarnya, mereka berdua berkonsentrasi terhadap satu sama lainnya. Tangan Sugiarto naik ke punggung Gita Raybani, menarik kaos yang dipakai Gita Raybani bersamanya.

Ciuman mereka merenggang, Gita Raybani mengangkat tubuhnya, tangannya mengangkat ke atas saat Sugiarto melepaskan kaosnya lepas dari tubuhnya. Payudaranya terbebas. Sugiarto melihatnya untuk pertama kalinya. Di dalam keremangan cahaya, Sugiarto masih dapat menangkap keindahannya. Payudaranya yang tak begitu besar dengan putting susu yang keras menantang, dan dia menggoyangkannya dihadapan Sugiarto, menggodanya.Cerpen Sex

Sugiarto mengangkat tubuhnya, tangannya yang besar menahan punggung Gita Raybani saat dia menghisap putingnya ke dalam mulutnya. Gita Raybani menggelinjang kegelian saat lidahnya bergerak melingkari sebelah payudaranya sebelum mencium yang satunya lagi.

Pada waktu yang bersamaan Sugiarto mengangkat pantatnya, masih berusaha agar tetap tenggelam dalam vaginanya, tapi bergerak keluar masuk dengan pelan. Tangannya meremas payudara Gita Raybani yang bebas, sedangkan mulutnya terus merangsang payudara yang satunya dengan mulutnya.
Gita Raybani memandang Sugiarto yang merangsang payudaranya, tangannya membelai rambut Sugiarto dengan lembut. Gita Raybani merasa penis Sugiarto bergerak keluar sedikit tapi tak lama kemudian masuk kembali ke dalam vaginanya. Dia merasa sangat nyaman, sangat berbeda di dalam tubuhnya. Dia mulai menggoyang, mengimbangi kocokan Sugiarto yang mulai bertambah cepat.

Sugiarto melepaskan mulut dan tangannya dari payudara Gita Raybani dan rebah kembali ke atas kasur. Gita Raybani mulai mengangkat pinggulnya naik ke atas hingga batang penis Sugiarto nyaris terlepas ke luar seluruhnya sebelum menghentakkan pinggulnya ke bawah lagi.

Tangan Sugiarto kembali pada pantat Gita Raybani, meremasnya sambil memandangi wanita yang telah menikah ini menggoyang tubuhnya tanpa henti. Dengan tanpa bisa dibendung lagi erangan demi erangan semakin sering terdengar keluar dari mulut Gita Raybani.

Orgasme yang sangat dinantikannya seharian ini mulai terbangun dalam tubuhnya. Dengan meremas pantatnya erat, Sugiarto menggerakkan tubuh Gita Raybani naik turun semakin keras dan keras. Hentakan tubuh mereka saling bertemu. Nafas Gita Raybani semakin berat, Penis Sugiarto menyentak dalam tubuhnya berulang kali.

Dengan cepat orgasmenya semakin mendekat. Gita Raybani mempercepat kocokannya pada penis Sugiarto, menghentakkan bertambah cepat seiring orgasmenya yang mendesak keluar. Gita Raybani tak mampu membendungnya lebih lama lagi, pandangannya mulai menjadi gelap.

Jantungnya berdegup semakin kencang, otot vaginanya berkontraksi, seluruh sendi tubuhnya bergetar saat dia keluar dengan hebatnya. Mulutnya memekik melepaskan himpitan yang menyumbat aliran nafasnya.

Melihat pemandangan itu gairah Sugiarto semakin memuncak, dia tak memberi kesempatan pada Gita Raybani untuk menikmati sensasi orgasmenya. Diangkatnya tubuh mungil wanita itu, dan membaringkan di sampingnya. Dia bergerak ke atas tubuh Gita Raybani dan Gita Raybani membuka pahanya melebar menyambutnya secara refleks.

Sugiarto memandangi kepala penisnya yang menekan bibir vagina Gita Raybani. Dengan pelan dia mulai masuk, dan mendorongnya masuk ke dalam lubang hangatnya. Gita Raybani mengangkat kakinya ke udara, membukanya lebar lebar untuknya.

Sugiarto menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya. Sugiarto memberinya satu dorngan yang kuat. Gita Raybani memekik, ombak kenikmatan menggulungnya saat batang keras itu memasuki tubuhnya. Sugiarto mulai menyetubuhinya tanpa ampun, Gita Raybani telah sangat membakar gairahnya. Sugiarto mengocokkan penisnya keluar masuk dalam vagina istri sahabatnya yang berada di bawah tubuhnya dengan cepat, kedua kaki Gita Raybani terayun-ayun di atas pantatnya yang menghentak.

Tempat tidur sampai bergoyang karena hentakan Sugiarto. Gita Raybani menggigit bibirnya untuk meredam erangannya yang semakin bertambah keras.

Sugiarto mulai kehilangan kontrol. Penisnya keluar masuk dalam vagina Gita Raybani sebelum akhirnya, dia menarik keluar batang penisnya dengan bunyi yang sangat basah.

Sugiarto mengerang, batang penisnya berdenyut hebat dalam genggaman tangannya. Sebuah tembakan yang kuat dari cairan kental putih keluar dari ujung kepala penisnya dan menghantam perut Gita Raybani, beberapa darinya bahkan sampai di payudaranya.

Gita Raybani menarik nafas, dadanya terasa sesak saat dia melihat tembakan demi tembakan sperma yang kuat keluar dari penis Sugiarto, dan mendarat di atas perutnya. Terasa sangat panas pada kulit perutnya, tapi semakin membakar gairahnya menyadari bahwa itu bukan semburan sperma suaminya, tapi dari seorang pria lain.

Akhirnya, sperma terakhir menetes dari penis Sugiarto, menetes ke atas rambut kemaluan Gita Raybani yang terbaring di depannya dengan kaki terpentang lebar. Dengan mata yang terpejam, Gita Raybani tersenyum puas.

“Aku membutuhkannya” bisiknya. Mereka terdiam beberapa saat meredakan nafas yang memburu sebelum akhirnya mulai membersihkan tubuh basah mereka. Sugiarto mencium dengan lembut bibir Gita Raybani yang tersenyum.

Gita Raybani memakai kaosnya dan menggenggam celana dalamnya dalam tangan, melangkah keluar dari kamar itu dengan perasaan yang sangat lega.

Sugiarto bangun di keesokan harinya. Peristiwa semalam langsung menyergap benaknya, penisnya mulai mengeras. Dikeluarkannya batang penisnya dan perlahan mulai mengocoknya.
Dia merasa sangat senang saat mendengar ada seseorang yang sedang mandi. Dimasukkannya penisnya kembali kedalam celana dalamnya, bergegas memakai celana jeansnya dan bergegas keluar kamar dengan bersemangat, turun ke lantai bawah.

Dia berharap yang sedang mandi adalah Dhika dan Gita Raybani ada di lantai bawah. Dia mendengar seseorang sedang membuat kopi di dapur. Dia segera ke sana dan ternyata.

Gita Raybani masih dengan pakaian yang dikenakannya malam tadi, sebuah kaos besar hingga lutut, dan sebuah celana dalam saja di baliknya. Dia menoleh saat mendengar ada yang mendekat, dan langsung tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Terasa ada desiran halus di vaginanya saat memandang Sugiarto.

Gita Raybani terkejut saat tangan Sugiarto melingkar di pinggangnya memeluknya erat dan mencium bibirnya. Lalu Gita Raybani sadar ada seseorang yang sedang mandi di lantai atas dan Dhika lah yang sedang berada di kamar mandi itu. Bibirnya membalas lumatan Sugiarto dengan menggebu saat tangan Sugiarto menyusup ke dalam kaosnya untuk menyentuh payudaranya.

Gita Raybani melenguh di dalam mulut Sugiarto yang memeluknya merapat ke tubuhnya. Desiran gairah memercik dari payudaranya langsung menuju ke vaginanya, membuatnya basah. Wanita mungil itu tak berdaya dalam dekapan Sugiarto, tangan Gita Raybani melingkari leher Sugiarto.

Mereka berciuman dengan penuh gairah, lidah saling bertaut, perlahan Sugiarto mendorong tubuh Gita Raybani merapat ke dinding. Tangannya meremas bongkahan pantat Gita Raybani di balik kaosnya. Dan Gita Raybani sangat merasakan tonjolan pada bagian depan celana jeans Sugiarto yang menekan perutnya.

Ciuman Gita Raybani turun ke leher Sugiarto, lidahnya melata menuju putting Sugiarto. Gita Raybani membiarkan Sugiarto mengangkat tubuhnya ke atas meja, memandangnya dengan pasif saat Sugiarto menyingkap kaosnya hingga dadanya. Gita Raybani mengangkat kakinya bertumpu pada tepian meja, mempertontonkan celana dalam putihnya.

Vaginanya berdenyut tak terkontrol, menantikan apa yang akan terjadi berikutnya. Sugiarto berlutut di hadapannya, dia dapat mencium aroma yang kuat dari lembah surganya saat hidungnya bergerak mendekat.

Perlahan diciumnya vagina Gita Raybani yang masih tertutupi kain itu, Gita Raybani mendesah, kenikmatan mengaliri darahnya. Untuk pertama kalinya, Gita Raybani merasa gembira saat Dhika berada lama di dalam kamar mandi!

Dengan tak sabar, tangannya menuju ke pangkal pahanya. Sugiarto hanya menatapnya saat tangan Gita Raybani menarik celana dalamnya sendiri ke samping, memperlihatkan rambut kemaluannya, dan kemudian bibir vaginanya yang kemerahan.


Gita Raybani menatap pria yang berlutut di antara pahanya, api gairah tampak berkobar dalam matanya, menahan celana dalamnya ke samping untuknya. Sugiarto menatap matanya seiring bibirnya mulai mencium bibir vaginanya. Membuat lebih banyak desiran kenikmatan mengguyur tubuhnya dan dia mendesah melampiaskan kenikmatan yang dirasakannya.

Lidah Sugiarto mulai menjilat dari bagian bawah bibir vagina Gita Raybani sampai ke bagian atasnya, mendorong kelentitnya dengan ujung lidahnya saat dia menemukannya. Diselipkannya lidahnya masuk ke dalam lubang vaginanya, mersakan bagaimana rasanya cairan gairah Gita Raybani.

Dihisapnya bibir vagina itu ke dalam mulutnya dan dia mulai menggerakkan lidahnya naik turun di sana, membuat Gita Raybani semakin basah.

Desahannya terdengar, menggoyangkan pinggulnya di wajah Sugiarto. Sugiarto melepaskan bibirnya, lidahnya bergerak ke kelentitnya. Dirangsangnya tonjolan daging sensitif itu menggunakan lidahnya dalam gerakan memutar.

Gita Raybani menaruh kakinya pada bahu Sugiarto, duduknya jadi tidak tenang. Tiba-tiba, Sugiarto menghisap kelentitnya ke dalam mulutnya, menggigitnya diantara bibirnya.

Gita Raybani memekik agak keras saat serasa ada aliran listrik yang menyentak tubuhnya. Lidah Sugiarto bergerak berulang-ulang pada kelentit Gita Raybani yang terjepit diantara bibirnya, tahu bahwa titik puncak Gita Raybani sudah dekat. Dilepaskannya kelentit itu dari mulutnya dan tangannya menggantikan mengerjai kelentit Gita Raybani dengan cepat.

“Oh Tuhan… ” bisiknya mendesah, merasakan orgasmenya mendekat. Jari Sugiarto bergerak tanpa ampun, pinggul Gita Raybani terangkat karenanya. Gita Raybani menggigit bibirnya berusaha agar suara jeritannya tak terdengar sampai kepada suaminya yang berada di kamar mandi saat orgasmenya datang dengan hebatnya. Dadanya sesak, nafasnya terhenti beberapa saat, dinding-dinding vaginanya merapat.
Kedua kakinya terpentang lebar di belakang kepala Sugiarto. Gita Raybani mendesah hebat, akhirnya nafasnya kembali mengisi paru-parunya mengiringi terlepasnya orgasmenya.

Sugiarto berdiri dan langsung mengeluarkan penisnya. Gita Raybani memandang dengan lapar pada batang penis dalam genggaman tangan Sugiarto. Sebelah tangan Gita Raybani masih memegangi celana dalamnya ke samping saat tangannya yang satunya lagi meraih batang penis Sugiarto. Tangan kecil itu menggenggamnya saat Sugiarto maju mendekat.

Dengan cepat Gita Raybani menggesek-gesekkannya pada bibir vaginanya yang basah, berhenti hanya saat itu sudah tepat berada di depan lubang masuknya. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama suara dari kamar mandi di lantai atas yang masih terdengar.

Sugiarto melihat ke bawah pada kepala penisnya yang menekan bibir vagina Gita Raybani.

Sugiarto mendorong ke depan dan menyaksikan bibir itu membuka untuknya, mengijinkannya untuk masuk. Desahan Gita Raybani segera terdengar saat dia mersa terisi. Sugiarto terus mendorong, vagina Gita Raybani terus menghisapnya sampai akhirnya, Sugiarto berada di dalamya dalam satu dorongan saja.

Gita Raybani sangat panas dan mencengkeramnya, dan Sugiarto membiarkan penisnya terkubur di dalam sana untuk beberapa saat, meresapi perasaan yang datang padanya. Tangan Gita Raybani masih menahan celana dalamnya ke samping, tangan yang satunya meraih kepala Sugiarto mendekat padanya.

Lidahnya mencari pasangannya dalam lumatan bibir yang rapat. Dengan pelan Sugiarto menarik penisnya. Dia mendorongnya masuk kemabali, keras, dan Gita Raybani mengerang dalam mulutnya seketika. Tubuh mereka saling merapat, kaki Gita Raybani terjuntai terayun dibelakang tubuh Sugiarto dalam tiap hentakan.

Dhika yang masih berada di kamar mandi tak mengira di lantai bawah penis sahabatnya sedang terkubur dalam vagina istrinya.

Sementara itu Gita Raybani, sedang berada di ambang orgasmenya yang lain. Penis pria ini menyentuhnya dengan begitu berbeda! Terasa sangat nikmat saat keluar masuk dalam tubuhnya seperti itu! Dia orgasme, melenguh, melepaskan ciumannya.

Sugiarto mundur sedikit dan melihat batang penisnya keluar masuk dalam lubang vaginanya yang kemerahan, tangannya yang kecil menahan celana dalamnya jauh-jauh ke samping yang membuat Sugiarto heran karena kain itu tak robek. Dia mulai menyutubuhinya dengan keras, menyadari kalau mungkin saja dia tak mempunyai banyak waktu lagi.

Jika Dhika masuk ke sudut ruangan itu, dia akan melihat ujung kaki istrinya yang terayun dibelakang pantat Sugiarto. Celana jeans Sugiarto merosot hingga mata kakinya, celana dalamnya berada di lututnya, dan pantatnya mengayun dengan kecepatan penuh diantara paha Gita Raybani yang terbuka lebar. Dhika mungkin mendengar suara erangan kenikmatan istrinya.

Sugiarto terus mengocok, dia dapat merasakan kantung buah zakarnya mengencang dan dia tahu itu tak lama lagi. Dia menggeram, memberinya beberapa kocokan lagi sebelum dilesakkannya batang penisnya ke dalam vagina wanita bersuami itu dan menahannya di dalam sana.

Dia menggeram hebat, penisnya menyemburkan spermanya yang panas di dalam sana. Begitu banyak sperma yang tertumpah di dalam vagina Gita Raybani.

Erangan keduanya terdengar saling bersahutan untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka tersadar kalau suara dari dalam kamar mandi sudah berhenti, dan tak menyadari sudah berapa lama itu tak terdengar.

Bibir Sugiarto mengunci bibirnya dan mereka saling melumat untuk beberapa waktu seiring kejantanan Sugiarto yang melembut di dalam tubuhnya. Kemudian mereka saling merenggang dan Sugiarto mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi itu dari vagina Gita Raybani. Dengan cekatan dia mengenakan pakaiannya kembali.

Gita Raybani membiarkan celana dalamnya seperti begitu. Dia merasa celananya menjadi semakin basah saat ada sperma Sugiarto yang menetes keluar dari vaginanya saat dia berdiri.

Instagram

Baca Juga Berita Heboh Hari Ini

loading...